Kembali membuka blog ini untuk menulis, tiba-tiba kepikiran saja untuk menuangkan kekalutan di dalam pikiran ke dalam tulisan, dan tiba-tiba saja yang terpikir medium yang akan digunakan adalah blog ini. Sudah 4 tahun terakhir menulis di blog ini, ya. Memang sih dari awal pembuatan blog ini gak jelas arah tujuannya mau kemana, sama seperti kehidupanku sejak lepas dari umur 17 tahun.
Langsung saja sih, niat untuk melipir ke blog ini adalah ingin menulis sesuatu yang sedang berkecamuk di dalam pikiran dan hati. Mungkin mudah ditebak karena memang hampir setiap orang merasakannya, tentunya bagi yang mempunyai perasaan dan pemikiran, ya karena cinta. Tepatnya di Desember tahun 2019 diriku ini kembali mengenal apa yang disebut "cinta" yang mana terakhir aku merasakan dan percaya tentang konsep itu tepat 4 tahun sebelumnya. Selama 4 tahun itu aku hidup dengan melihat orang lain membicarakan apa yang disebut cinta, namun aku hanya menanggapinya dengan bodo amat dan cenderung mencemooh apa yang orang-orang katakan tentang cinta, ya singkat cerita aku adalah orang yang punya trauma dan dendam tersendiri jika berhubungan dengan cinta, hubungan antar lawan jenis, dan semua hal yang berkaitan dengan itu. Singkat cerita pula aku menganggap diriku adalah korban, korban dari sebuah kombinasi janji-janji manis dan perilaku pasangan yang berlawanan dengan apa yang dia ucapkan, korban dari sebuah kejadian yang meluluhkan hati dan membuat hati berjanji sendiri bahwa orang yang telah berbuat demikian adalah cinta sejati dan diriku akan setia selamanya dengan dia, nyatanya semuanya berakhir dengan akhir yang pahit dan tidak mengenakan di diriku saja. Selama 4 tahun tersebut mayoritas hari-hari kulalui dengan biasa saja, kadang merasa tidak ada yang harus diperjuangkan dari hidup, kadang merasa beda dari orang lain, kadang merasa gak berguna juga, tapi tetap dijalani sebagaimana mestinya namun dengan susasana yang tidak antusias. Dalam rentang waktu tersebut juga tidak sedikit lawan jenis yang mencoba meraih hatiku dan aku juga sempat berpikir untuk menjadikan mereka sebagai pelarian dan pelampiasan dari rasa traumaku, tapi tidak kupilih jalan tersebut dan tetap menjalani hidup dalam kesendirian tanpa pasangan, hingga pada Desember tahun lalu itu aku bertemu seorang wanita yang sekilas entah mengapa menimbulkan rasa penasaran di dalam hati dan pikiran, seperti menciptakan kerusuhan yang tidak diduga-duga di dalam diri, sejenak aku ingin mengacuhkannya namun rasa penasaran itu makin memuncak hingga akhirnya aku coba untuk mem-follow akun instagram dia, setelah itu aku melihat-lihat profilnya untuk sekedar memuaskan rasa penasaranku akan seperti apa gambaran kepribadian dia di media sosial, dan mencoba memvisualisasikannya dalam versi dunia nyatanya. Kemudian reaksi selanjutnya adalah rasa penasaran yang sudah mereda namun digantikan dengan rasa kagum yang mulai tumbuh, karena sosoknya cukup menghangatkan menurutku, walau hanya menilai lewat akun Instagramnya, lalu tiba-tiba ketika aku menanyakan penilaian followers-ku tentang sebuah series di Apple TV lewat fitur igstories, tiba-tiba dia mereplynya dengan kalimat bahasa inggris yang cukup mengejutkanku sekaligus membuat aku makin kagum terhadap dia. Perlahan kemudian aku mulai berbalas-balas dm dengan dia, di saat itu yang terpikirkan adalah aku merasa beruntung bisa ngobrol sama orang yang periang dan perlahan juga dia sudah memberi warna baru di dalam hidupku, hingga ku putuskan untuk mengajaknya ke konser musik di Bandung. Pertama kalinya aku mengajak lawan jenis untuk menonton, kebetulan dari awal aku memesan 3 tiket untuk teman lelakiku, eh tiba-tiba mereka membatalkan, lalu aku tawarkan saja kepada dia, dan dia pun mengiyakan. Sayangnya di hari-h aku dan dia tidak jadi untuk menonton konser bareng, karena lain satu hal, dari kejadian tersebut tiba-tiba aku merasa sesuatu yang sebenarnya salah tapi nyatanya aku merasakan hal itu, rasa kecewa muncul selayaknya dikecewakan orang terkasih muncul pada saat itu.
Seiringnya waktu berjalan kami makin akrab satu sama lain, di satu waktu, aku baru menyadari bahwa dia sudah mempunyai pacar dan pacarnya itu merupakan seseorang yang aku kenal, ini merupakan bagian tentang kebingunganku harus melakukan apa, di satu sisi aku sudah merasa akrab dan mulai memikirkan bagaimana ke depannya, di satu sisi dia ternyata pacar dari orang yang aku kenal, namun di tengah kebingungan itu aku menangkap bahwa dia tidak merasa nyaman dengan pacarnya itu, lalu aku mulai memberikan saran-saran yang tentunya tidak tendensius mengarah pada satu hal, dan dia menerima saranku tanpa meragukannya, termasuk ketika dia menanyai aku tentang cara memutuskan pacarnya dengan posisi dia dulu ditembak secara langsung, apakah etis kalo dia memutuskan secara langsung via aplikasi chat, dan aku menyarankan agar dia ngobrol saja walau tidak secara langsung, dan dia melaksanakan saranku tanpa kurang satu hal pun. Dari sana aku mulai optimis akan hal yang akan terjadi di depan, aku mulai menysusun beberapa rencana pertemuan dengan dia, entah itu di Bandung atau di Pangandaran, lalu aku memutuskan untuk mengajaknya menonton film 1917 di CGV Metro Mall, kebetulan dekat dengan Bapusipda yang mana merupakan salah satu tempat favoritnya, mengingat dia memang suka untuk membaca buku. Pertemuan pertama kami secara langsung sejak intens mengobrol terjadi di jalan Kawaluyaan. Ketika itu kami berencana untuk mengunjungi Bapusipda terlebih dahulu untuk membaca buku bersama sebelum lanjut menonton di bioskop, kebetulan pada saat itu aku sedang berada di Jatinangor untuk suatu urusan, nah berangkatlah aku sendiri dari Jatinangor naik DAMRI lalu turun di Jalan Soekarno-Hatta di sekitaran Bapuspida tersebut, ketika itu aku bingung jalan mana yang harus aku tempuh, lalu dia menandai Jalan Kawaluyaan sebagai titik jemput. Berjalanlah aku ke sana, lalu di kejauhan terlihat seorang yang memiliki tubuh mungil dan wajah yang menurutku rupawan dan menghangatkan hatiku, tak lama aku menundukan pandangan agar tidak terlalu kelihatan terpukau akan kedatangannya, kemudian dia melambaikan tangan sebagai tanda bahwa dia sudah mengenaliku, lalu menyebrang ke sisi aku berdiri untuk kemudian bersama-sama menuju Bapusipda. Di sepanjang jalan kami mengobrol ringan tentang hal-hal yang sepele, karena aku sendiri memang sedang kikuk-kikuknya. Tibalah kami di ruang perpustakaan Bapusipda, aku langsung menuju rak buku dan mencoba mencari buku-buku yang menarik untuk dibaca, dia pun dengan sendirinya melakukan hal yang sama denganku, lalu kami membaca di lorong yang berbeda, di saat itu aku mencuri-curi pandang untuk sekedar melihat dia ketika membaca buku, ketika dia mulai menoleh ke arahku, aku segera bersembunyi di antara rak buku, konyol namun indah rasanya. Lalu kami memutuskan untuk membaca di satu meja, kami pun mengobrol tentang buku, aku menanyai dia tentang teknik membaca, dia merekomendasikan beberapa buku untuk dibaca, kembali lagi, sungguh pertemuan yang sangat berkesan. Selanjutnya cerita dilanjutkan di Bioskop, ketika itu aku meminta dia untuk menemani menonton film 1917 yang bergenre action sekaligus membahas tentang sejarah perang dunia yang menjadi favorit aku, kami kebagian teater yang tidak menggunakan kursi sebagai tempat duduk tapi semacam kasur yang bisa untuk memuat dua orang dan menonton dengan selonjoran (entah apa jenis teaternya, aku lupa). Di sana aku makin merasa nyaman dan dekat, aku merasa terbuai, walau aku sadar aku bukan siapa-siapa dia, aku sungguh bersyukur sekali di hari itu, selain aku merasa dia adalah tipeku, lebih dari itu kepribadiannya yang membuat aku makin kagum sekaligus makin muncul rasa-rasa suka atau entah cinta di dalam hati. Pada saat itu kebahagiaan rasanya bertubi-tubi menghampiri, bukan saja karena film yang ditonton memuaskan tapi lebih dari itu hari pertamaku dengan dia sungguh sangatlah berkesan, membuatku berpikir di dalam hati bahwa mungkin ini orang yang aku tunggu-tunggu sejak terakhir aku membenci dengan apa yang disebut hubungan apalagi dengan judul "pacaran", dan aku mengingat juga waktu itu genap sudah 5 tahun aku hidup tanpa ada warna dan tidak pernah sebahagia sejak aku menjalani hari dengan dia, singkat cerita hari itu pun berakhir setlah kami berjalan cukup jauh menyusuri trotoar Jalan Soekarno-Hatta lalu berpisah ke arah pulang masing-masing, dia naik angkot ke arah rumahnya di Kiaracondong, aku kembali ke arah Jatinangor naik DAMRI.
